Manfaat Kelapa Sawit Bagi Perekonomian Nasional

Industri kelapa sawit berpotensi menghasilkan perkembangan ekonomi dan sosial yang signifikan di Indonesia. Kelapa sawit merupakan produk pertanian paling sukses kedua di Indonesia setelah padi, dan merupakan ekspor pertanian terbesar. Industri ini menjadi sarana meraih nafkah dan perkembangan ekonomi bagi sejumlah besar masyarakat miskin di pedesaan Indonesia. Industri kelapa sawit Indonesia diperkirakan akan terus berkembang pesat dalam jangka menengah; tetapi, daya saingnya akan terpukul oleh agenda antiminyak sawit. Pasar minyak sawit dunia mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa dasawarsa terakhir dengan produksi minyak sawit saat ini diperkirakan lebih dari 45 juta ton. Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia, dengan produksi lebih dari 18 juta ton minyak sawit per tahun.

Meskipun hanya menyumbang sekitar 14% PDB, pertanian menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 41% penduduk Indonesia dan menjadi mata pencarian sekitar dua pertiga rumah tangga pedesaan. Industri kelapa sawit merupakan kontributor yang signifikan bagi pendapatan masyarakat pedesaan di Indonesia. Pada 2008, lebih dari 41% perkebunan kelapa sawit dimiliki oleh petani kecil, menghasilkan 6,6 juta ton minyak sawit. Dengan lebih dari separuh penduduk Indonesia tinggal di daerah pedesaan dan lebih dari 20% di antaranya hidup di bawah garis kemiskinan industri kelapa sawit menyediakan sarana pengentasan kemiskinan yang tidak terbandingi. Pembatasan konversi hutan untuk pertanian atau kelapa sawit menutup peluang peningkatan standar hidup dan manfaat ekonomi yang cukup prospektif bagi warga pedesaan, membenamkan mereka ke standar kehidupan yang kian rendah.

Karena permintaan dunia akan minyak sawit diperkirakan akan semakin meningkat di masa depan, minyak sawit menawarkan prospek ekonomi yang paling menjanjikan bagi Indonesia. Produksi minyak sawit dunia diperkirakan meningkat 32%  menjadi hampir 60 juta ton menjelang 2020. Pembatasan konversi hutan untuk perkebunan kelapa sawit Indonesia akan mengurangi ketersediaan lahan subur dan menghambat ekspansi industri ini. Kebijakan pemerintah harus bertujuan meningkatkan produktivitas, bukan menerapkan kebijakan LSM yang anti pertumbuhan.

KEBUTUHAN KELAPA SAWIT (CPO) – DOMESTIK

Kebutuhan CPO untuk pemenuhan pasar Domestik untuk berbagai macam penggunaan mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.  Konsumsi nasional pada tahun 1964 sebesar 30.000 MT meningkat menjadi 94.000 pada tahun 1974 (naik 214% atau rata-rata 21,4% per tahun.  Pada tahun 2010 Konsumsi Domestik mencapai 6.265.000 MT. Kenaikan yang sangat mencolok atas penggunaan CPO dalam negeri ini diakibatkan antara lain perubahan bahan baku minyak goreng dari minyak nabati lain ke Minyak sawit (CPO). Disamping itu lebih berkembangnya industri-industri yang menggunakan bahan baku minyak sawit seperti : Bio Fuel, produk kosmetik, pakan ternak dll.

Untuk dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai konsumsi CPO dalam Negeri untuk periode 1980 sampai dengan 2011 kami sampaikan tabel dan grafik sebagai berikut :

Ket : dikutip dari berbagai sumber

 

This entry was posted in Pengenalan Kelapa Sawit, Produksi & panen, Prospek & Peluang Pasar and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>